19 April 2017

Monumen Jongenskampen, Saat Itu Mereka Masih Sangat Muda

“Kami berdiri dalam antrian yang panjang, perempuan dan anak-anak,
Dibawah teriknya terik matahari tropis.
Berjam-jam lamanya…
Dan orang Jepang terus saja menghitung.
Menghitung dalam bahasa Jepang sangatlah sulit.
Itu berlangsung lama, berjam-jam lamanya…
Hitung, hitung, hitung
Hitung berjam-jam lamanya
Beribu tahun
Dibawah teriknya sinar matahari
Dengan perut kosong
(Appèl, puisi karya Freddi Cochius )


Saya membaca puisi tersebut di atas kereta menuju perjalanan pulang ke Jakarta. Pikiran saya masih saja tertuju pada Monumen Jogenskampen di Ereveld Kalibanteng yang Jumat kemarin saya kunjungi bertepatan dengan hari Jumat Agung. Sepertinya puisi tersebut dengan visualisasi yang digambarkan oleh pematung Anton Beysens, membuat pikiran saya melayang membayangkan situasi pendudukan Jepang di Hidia Belanda pada masa itu.

Monumen Jogenskampen, mengambarkan seorang anak laki-laki  kurus, terlihat dari tulang-tulang rusuknya yang menonjol  karena kurang makan yang sedang memanggul pacul di bahunya, ditopang sebuah kapak dengan hanya mengenakan kain di pinggangnya. Monumen ini didirikan untuk mengingat anak-anak muda yang wafat pada masa penindasan Jepang di Hindia Belanda. Anak-anak muda yang dipisahkan dari ibunya dan ditawan di tempat pengasingan anak maupun pria dewasa.

Dibawah kaki patung tembaga yang diresmikan pada tahun 1988 tersebut tertulis dalam bahasa Belanda yang berarti “Saat itu mereka masih sangat muda”. Saya tidak dapat membayangkan jika saya menjadi salah satu anak muda kala itu. Dengan segala hormat untuk mengenang mereka yang telah gugur, anak-anak, kaum muda, laki-laki dan perempuan semoga mereka yang telah wafat ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya.


**Semua foto yang saya buat di Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi bukan untuk kepentingan dan tujuan komersial**

Ereveld Kalibanteng dan Candi, Makam Kehormatan Belanda Di Semarang

Beberapa kali ke Semarang dan seringnya wara-wiri dijalan Siliwangi membuat saya penasaran dengan kompleks pemakaman tersebut. Barisan Salib Putih yang tertata rapih yang begitu teduh dengan pohon beringin besar di bagian depan sepanjang sisi jalan. Saya tanya ke teman saya yang asli Semarang ada apa di Ereveld Kalibanteng, dia sendiri seumur hidup belum pernah masuk ke Ereveld tersebut. Kasihan banget!!! Akhirnya saya cari tahu sendiri tentang Ereveld. 

Monumen Jogenskampen, Ereveld Kalibanteng
Ereveld atau Makam Kehormatan Belanda adalah pemakaman korban perang, baik dari militer maupun sipil yang gugur pada saat perang di Hindia Belanda. Ada tujuh Ereveld yang tersebar di pulau Jawa yaitu Ereveld Menteng Pulo & Ereveld Ancol yang ada di Jakarta,  Ereveld Pandu di Bandung, Ereveld Leuwigajah di Cimahi, yang terakhir Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi keduanya ada di Semarang. Malah saya belum pernah mengunjungi Ereveld yang ada di Jakarta. Pernah ke makam tapi ke pemakaman kuno Belanda yang ada di Kebun Raya Bogor dan Museum Prasasti yang merupakan makam peninggalan Belanda juga, membuat saya tertarik berziarah ke Ereveld.

Pertama kali saya menjejakan kaki ke Ereveld Candi yang letaknya lebih jauh dari Ereveld Kalibanteng dari tempat saya menginap di daerah Mijen. Ereveld Candi terletak di bukit Selatan Semarang di jalan Jenderal Sudirman Gajah Mungkur, Candi, pemandangannya bagus dengan latar bukit di bagian belakang makam. Kata sepupu dari teman saya kalau cuaca lagi cerah akan terlihat gunung Unggaran. Saya membunyikan bel yang ada di sisi kiri gerbang. Cukup sekali saja, pintu gerbang dibuka oleh salah seorang pengelola makam, Pak Vincent namanya. Beberapa hari sebelum hari kunjungan saya memang telah meminta ijin berkunjung  pada Yayasan Oorlogsgravenstiching atau OGS yang merupakan yayasan pengelola seluruh Ereveld yang ada di Indonesia yang berkantor pusat di Jl. Panglima Polim, Jakarta. Sempat berbicang dengan Bapak Vincent  yang menanyakan maksud tujuan saya berkunjung, saya hanya mayarakat umum yang ingin berziarah. Sebelum saya berkunjung memang ada keluarga yang berziarah yang merupakan keturunan dari yang di makamkan ditempat ini, sebelum berkeliling saya diajak ke pendopo untuk mengisi buku tamu. Walaupun matahari saat itu tepat di atas ubun-ubun ( baca: kesiangan), tapi tidak menyurutkan langkah saya untuk menapaki Ereveld Candi. Khusus Ereveld Candi mereka yang dimakamkan adalah mereka yang berasal dari kalangan militer.
Voor Veiligheid en Recht, Ereveld Candi

Dulunya para korban dimakamkan di dua puluh dua Makam Kehormatan Belanda yang tersebar di Indonesia, dibagun antara tahun 1946 dan 1950 oleh Dinas pemakaman milik Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Atas permohonan pemerintah Indonesia, setelah penyerahan kedaulatan di tahun 60an ke dua puluh dua Makam Kehormatan Belanda dikumpulkan di Pulau Jawa saja. Tidak hanya yang beragama Kristen tapi mereka yang beragama Islam, Budha dan Yahudi juga dimakamkan di Ereveld. Bedanya nisannya tidak berbentuk Salib. Di tengah-tengah pemakaman terdapat monument pusat yang berbentuk salib berwarna putih, dibawahnya tertulis “VOOR VEILIGHEID EN RECHT” yang dapat diartikan “For Security and Justice”.

Semoga mereka yang gugur ditempatkan di tempat terbaik disisiNya


**Semua foto yang saya buat di Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi bukan untuk kepentingan dan tujuan komersial**

12 Februari 2017

Tips : Traveling Rame-Rame Bareng Temen

Bersama Jelongers ( Loc. Taman Anggrek Kebun Raya Bogor )

“Bang..Kenapa tahu bulat digoreng dadakan?”
“Soalnya kalau digoreng dari jauh-jauh hari suka enggak jadi, Neng"
    “Yaaeelllahh Bang!!!"

Mungkin peryataan itu sebenarnya hanya jokes, kenapa kadang yang dadakan selalu jadi yang direncanain justru tidak terealisasi. Biasa terjadi kalau mau traveling bareng temen. Biasanya yang yang sudah direncanakan dari jauh hari kadang malah enggak jadi. Tapi mungkin peryataan tersebut muncul dari rasa kecewa dari apa yang sudah direncanakan tapi enggak terealisasi. Karena menurut saya tidak ada traveling yang sifatnya dadakan apalagi tanpa perencanaan. Jadi jangan takut untuk merencanakan sebuah perjalanan, kenapa? Yuk simak alasannya kenapa traveling itu butuh rencana :

1.       Dealing hari sama semua anggota grup
Ini..ni yang kadang paling sulit. Nentuin hari pergi sama rumitnya kaya nentuin hari pernikahan (Duileehh…ampe segitunya jodohnya aja belum keliatan). Nyari hari baik yang kosong barengan emang enggak gampang kerena masing-masing teman punya kesibukan.

2.       Pikirkan transport
Sebelum berangkat, pasti mikir dulu mau naik apa? Kalau perginya jauh pasti ngecek harga tiket dulu dan tiket harus dipesen dari jauh-jauh hari min 54 hari sebelum hari H. Bisa aja, pergi naik kereta pulang naik bis karena tiket pulang kereta sudah habis.

3.       Rundown acara dan tujuan
Upayakan kamu selalu tahu tujuan, karena kalau pergi ramean ( alias bareng temen ) enggak ada kata terserah atau ikut aja…Semua kepala harus menentukan ke mana tempat yang mau kalian singgahi beda pendapat bisa diselesaikan dengan ikut suara terbanyak, yang ribet kan kalau sudah enggak sejalan susah nentuin tujuannya. Kalau pergi sampai beberapa hari upayakan buat sususan tujuan, hari pertama dan kedua mau kemana. Buat prioritas tempat yang mau kalian kunjungi, buat plan A plan B, jadi kalau suatu tempat enggak sempat kalian singgahi, kalian punya alternative tujuan.

5.       Cari berbagai review tempat, transport dan hotel
Jangan malas untuk cari tahu ( kepoin mantan aja ga pernah malas..*eh). Cari berbagai review tentang hotel, tempat wisata atau tempat tujuanmu. Misal cari hotel yang dekat stasiun saja supaya ga jauh-jauh nantinya kalau sudah sampai dan mau pulang.

6.       Saling Mengandalkan
Bagi tugas dari awal, siapa yang bertugas pesen tiket dan hotel, riset tempat, dan bendahara. Bila ada teman yang sudah pernah ke lokasi biasanya dia yang paling diandalkan, upayakan segala transaksi keuangan dipegang hanya satu orang. Artinya ada yang ditunjuk sebagai bendahara, supaya keluar-masuk duit terkontrol dan kalaupun itung-itungan nantinya mudah.

Itu tadi tips kalau traveling rame-rame bareng temen, ini sih berdasarkan pengalama saya pribadi Semoga bermanfaat sobat travel.

7 Februari 2017

Belajar Jadi Travel Blogger Bersama Komunitas Depok Menulis

Rugi juga rasanya kalau punya pengalaman traveling ke suatu tempat tapi enggak diabadikan, bukan hanya dengan foto saja tapi dalam bentuk tulisan. Bukan cuma jadi traveler yang suka jalan-jalan tapi travel blogger yang bisa nulis. Yup!!! Weekend kemarin saya ikut acara yang diadakan teman-teman dari komunitas Depok Menulis yang bertemakan “ Yuk Jadi Travel Blogger” dengan pembicara Mba Donna Imelda, travel blogger sekaligus  Co Founder ID Corners bertempat di Tranz Eat Depok.

Notes dan Gift Voucher dari Depok Menulis

Gimana sih caranya memulai menjadi travel blogger?

Banyak nih yang masih binggung bagaimana caranya menjadi travel blogger atau penulis blog, bagaimana cara memulainya :

1.       Traveling enggak harus ke tempat yang jauh dan mahal.
Masih banyak sudut di Jakarta atau daerah seputaran tempat tinggalmu yang mungkin sebelumnya belum kamu jelajahi atau sama sekali enggak terpikir olehmu untuk kamu jelajahi, coba deh sesekali menjelajah. Barangkali tempat yang tadinya enggak populer mendadak ngehits gegara kamu posting. Sapa tau??

2.       Berlatih memotret dan wawancara.
Mengabadikan momen tiap kali traveling rasanya memang wajib, skill tambahan yang harus dimiliki oleh seorang travel blogger adalah memotret. Mulailah berlatih memotret dan mewawancarai. Kenali dulu lingkungan dan narasumber yang akan kita wawancara, jaga jarak privasi, kepo sih boleh tapi jangan terlalu frontal juga kali ya. Rekam dengan voice recorder tanpa diketahui seolah-olah kita sedang berbincang dengan narasumber.

3.       Mulai membuat catatan kecil
Catatan perjalan membantu kamu untuk mengingat informasi yang akan kamu gali yang nantinya akan dituangkan dalam tulisan. Gali sebanyak-banyaknya informasi bahkan sebelum kamu ke tempat tujuanmu bisa kamu riset terlebih atau googling terlebih dahulu mengenai tempat / negara yang akan kamu kunjungi.

4.       Posting di social media
Posting kegiatan travelingmu di sosmed. Kalau posting foto jangan kebanyakan muka kamu semua ya…orang juga males kali liatnya. Tulis caption yang sifatnya informatif .

5.       Posting di blog
Jangan biarkan pengalaman travelingmu menguap begitu saja, euporia yang kamu rasakan saat traveling juga bisa kamu tularkan pada pembaca blogmu. Ceritain pengalaman traveling kamu di blog, enggak perlu ber-domain pribadi tapi manfaatin yang gratisan. Mulai deh latihan menulis, dan asah terus kemampuan menulis kamu. Ingat!!!Jangan mulai traveling lagi sebelum kamu nyelesain tulisan perjalanan sebelumnya.
Travel Blogger & CO founder ID Corners Mba Donna Imelda
Terus saat traveling harus gimana???

§      Maximalin, semua indra kita, asah tajam, indra pengelihatan, pendengaran, penciuman dan perasa. Saya pernah baca satu buku ( tapi lupa judulnya apa..hehehe...) disitu diterangkan bagaimana kita harus bisa merawat baik-baik segala ingatan dan perasaan kita saat berada di suatu tempat. Mungkin itu kali yang dimaksud, saat kita di pantai misalnya, bagaimana rasanya kelapa ijo , angin pantai, saat berjjalan di tepi pantai, pasirnya dan deburan ombaknya.
§      Ambil gambar sebanyak mungkin.
§     Enggak perlu nunggu perjalanan selesai baru menuliskan. Di sela-sela perjalanan ke tempat lain atau perjalan pulang, kita bisa memcicil tulisan kita, supaya enggak numpuk. Nanti keburu malas duluan.
§    Mengumpulkan sebanyak mungkin materi untuk bahan tulisan, lakukan wawancara. Jangan lupa teknik 5W + 1 H supaya tulisannya informatif jelas, unik dan inspiratif.
      
      Itu tadi beberapa tips dari Mba Donnal Imelda bagaimana cara memulai untuk menjadi travel blogger, enggak hanya tips yang diberikan tapi Mba Donna tapi juga kami dibekali praktek latihan bagaimana caranya membuat sebuah lead, yaitu paragraf pembuka pada sebuah tulisan. 


Serius mendengarkan, masukan dari mba Donna dalam pembuatan lead tulisan

“Tell the story, get paid and traveling for free”

Siapa sih yang ga mau jalan-jalan, dibayar pula. Hhhmmm...kayaknya semua juga kepingin kalee... Terus gimana caranya??? Nah, mulai sekarang perbanyak hunting dan tulis tempat yang mau kamu jejalahi. Gabung dengan komunitas, bergabung dengan komunitas nantinya akan menambah wawasan kamu, sharing ilmu dari mereka yang sudah  berpengalaman. Mengoptimalkan jejaring sosial media, perluas jaringan dan kembangkan kemampuan korespondesi. Mengirim penawaran ke media karena tawaran enggak akan dateng dengan sendirinya ( kecuali punya kaki..Horor!!!). Kalau udah ngirim tapi enggak berhasil gmana??? ya sudah...keberhasilan bukan dilihat dari tulisanmu dimuat atau tidak di media. Mba Donna mengingatkan lakukanlah semuanya itu dengan hati. Jadi teruslah menulis. Makanya buruan deh tulis pengalaman seru kamu saat traveling di blog. Yang rajin ya!!!( Ngingetin diri sendiri...)


Peserta workshop Depok menulis


31 Januari 2017

Wisata Alam Kekinian The Lodge Maribaya Bandung




Masih di hari yang sama dari kunjungan saya ke Bandung. Setelah dari Floating Market Lembang kami menuju The Lodge Maribaya. Dari Floating Market kami naik angkot turun di pertigaan ke Arah Pasar Lembang. Turun dari angkot kami charter angkot lagi ke tempat wisata tersebut karena enggak tahu angkutan menuju ke sana. Kalau mau sewa angkot disarankan memang ramean...karena kami hanya bertiga jadi jatuhnya mahal deh.  Jalan menuju tempat wisata tersebut kecil apalagi kalau berpapasan dengan bus besar ditambah kendaraan bermotor, membuat laju kendaraan semakin pelan, aspalnya enggak mulus, alias berbatu. Ditambah di jalan juga bertemu dengan acara arak-arakan pengantin sunat, membuat kendaraan bukan saja melaju perlahan tapi malahan berhenti. Tapi lumayanlah dengan adanya arak-arakan tersebut dapat hiburan gratis. Walaupun sempat cemas dengan waktu tempuh ke sana, sejauh apa tempatnya kami juga enggak tahu karena kami bertiga belum pernah ke sana. Kalau kata supir angkotnya sih memang jauh dan macet. Sampai di sana jam satu lewat, dan berasa banget puanasnya pool.  Lebih enak kalau datang pagi kali ya selain ga panas, kendaraan juga belum banyak jadi untuk menghindarin macet juga. Untuk menuju pintu masuknya, kami harus naik angkot lagi. Ada angkot kuning yang menggangkut kami. Memangnya jauh ya?? Sebenarnya sih dekat tapi karena panas ya kami naik saja. Hehe…

Arak-arakan pengantin sunat

Aspalnya padahal enggak mulus loh...tapi bisa aja jalan pake kaki enggrang


Pemandangan Di the Lodge Maribaya, bikin mata seger


The Lodge Maribaya, tempat wisata ini menyajikan wisata outbond untuk keluarga,  Tiket masuknya Rp.25.000. Selain itu ada beberapa wahana yang bisa dinaiki sky tree dimana kita bisa photo di atas pohon yang sekarang lagi kekinian banget kaya tempat wisata Kalibiru di Jogja. Jika mau ngerasain sensasi main ayunan di atas lembah dengan pemandangan hutan yang hijau, bisa coba Sky Wing.  Ada juga Zip Bike kalau bersepeda di jalan udah terlalu mainstream, di wahana Zip Bike kita bisa bersepeda di udara. Tenang di semua wahana ada pengamannya dan didampingi petugas. Karena hari itu adalah hari terakhir libur sekolah jadi rame banget,panas pulak.



Selain tiket masuk untuk menikmati masing-masing wahana dikenakan biaya lagi


Buat yang bosen sepedaan di aspal,bisa coba Zip Bike, bersepeda di udara
Rame banget yang mau foto di sky tree


Nih..antrian Sky Wing...




Pinginnya sih bisa foto-foto kekinian di atas puun naik Sky Tree atau salah satu wahana tapi  karena hari itu adalah hari terakhir libur sekolah jadi ramai sekali dan harus antri di semua wahana.  Tidak satupun dari kami yang menaiki wahana karena malas mengantri, tenaga juga sudah terkuras sedari pagi sudah ke Floating Market ditambah perjalanan yang cukup lama bikin perut lapar lagi, maklum lah kami kan perempuan-perempuan "pemalu" alias pengen makan mulu..bentar-bentar laper. Kami sama sekali enggak kecewa hanya saja kami  lapar  sudah tidak penasaran lagi, rasa penasaran kami sudah terbayar dengan sejenak menikmati pemandangan The Lodge Maribaya yang bisa bikin mata seger. Yang mau ke The Lodge Maribaya, berikut alamatnya :

Jalan Maribaya No. 149/252, RT. 03 / RW. 15, 
Babakan Gentong, Cibodas, Lembang, Cibodas, Lembang, 
Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391

26 Januari 2017

Ala-ala Jepang di Floating Market – Lembang Bandung



Awal minggu di tahun baru saya berencana menjelajah kota Bandung. Menyambung cuti tahun baru, saya berangkat di akhir pekan minggu pertama. Berangkat dari stasiun Gambir dengan perjalan selama tiga jam dengan Argo Parahyangan. Berhubung kami ciwi-ciwi dan sampai Bandung juga sudah hampir jam sepuluh malam, sengaja kami mencari hotel yang dekat stasiun Bandung. Kami menginap di Unik Hotel yang letaknya dapat dicapai dengan berjalan kaki.

Hari pertama di Bandung kami berencana ke Floating Market-Lembang. Naik angkot sekali kearah Lembang, bilang saja sama abang angkotnya ke Floating Market. Nanti juga diturunin di jalan menuju pintu masuknya. Waktu kami sampai di tempat wisata tersebut, tempatnya baru buka dan parkiran masih sepi banget. Keuntungan datang ke tempat wisata pagi-pagi buta adalah bisa selfi sepuasnya, tanpa banyak orang berseliweran, hehe….Tiket masuknya hanya Rp.20.000. Floating Market menjajakan aneka makan, bagi yang suka kuliner bisa dicoba, pemandangannya disana juga indah dan juga ada wahana baru Kyotoku Floating Market dimana kita bisa menyewa kostum khas Jepang dan Korea.

“Maaf mba SPGnya belum datang” Kata salah satu penjaga tempat penyewaan kostumnya.
“Enggg…inggg..enggg” kita rajin banget ya dateng pagi-pagi disaat  SPGnya juga belum datang, kita sudah datang duluan. Hehehe…Oke sambil nunggu mba-mba SPGnya datang, kami foto-foto dulu.


Koleksi Hanbok bagi yang ingin ala Korea 


Kimononya juga lucu-lucu
Dibantu Mba-mba SPGnya untuk pakai Kimono

Saya binggung juga mau pakai kimono atau Hanbok ya…akhirnya pilih kimono aja dech. Lengkap dengan accesorisnya, jepit rambut tas kecil dan sandal bakiak. Udeh kaya Oshin deh pokoknya ( asal jangan Asin…) Biaya untuk sewa pakaian Rp.75.000 per 2 jam. Beruntung karena masih pagi jadi pilihannya masih banyak. Sambil bergaya pakai Kimono, kami jalan-jalan untuk mencari spot yang bagus untuk berfoto. Ribetnya pakai sandal bakiak plus pakai kaus kaki jadi licin gitu. Tapi rasanya kayak di Jepang beneran (sotoy!!! padahal belum pernah ke Jepang). Temen saya sampai tanya setelah saya upload foto di instagram. “Lo ke Jepang beneran Fit?”Hihi…. Spotnya memang agak mirip-mirip di Jepang sih, padahal mah di Lembang .


Bergaya pakai kimono lengkap dengan acessoriesnya




Hanbok ga kalah bagus ( payungnya pinjem punya yg diatas ya...heheh...)









Setelah puas berfoto dengan mengenakan Kimono dan Hanbok, sepertinya laper berat (Sebenernya sih masih belum bisa move on). Di Floating Market untuk bertransaksi membeli makanan dan minuman tidak dengan uang tapi dengan cara menukarkan koin yang tersedia ditempat penukaran koin . Kami hanya menukarkan dengan koin pecahan Rp. 10.000 dan 20.000. Tukar koinnya secukupnya saja karena kalau berlebih tidak bisa diuangkan kembali. Tadi pagi sempat mencuri dengar dari percakapan ibu-ibu di toilet kalau mie kocok di sini enak. Penasaran saya mencobanya, dan memang enak. Dari semalem kuliner di Bandung sepertinya belum ada yang mengecewakan. Dari tukeran koin saya beli tempe mendoan, ketoprak dan mie kocok (laper berat, semua dimakan)





Penjual makanannya ada di atas perahu


Menjajakan makanan khas Indonesia


Nah..ya..yuk sebelum ke Jepang main dulu ke Floating Market di Lembang Bandung. Yang beralamat di jalan Grand Hotel No. 33E, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391.



















  

9 Mei 2016

Menanti "Surat Cinta" dari Istana Tampaksiring Bali




Menjelang hari kunjungan ke Istana Tampak Siring, saya belum juga mendapat konfirmasi ijin berkunjung ke Istana tersebut, karena untuk dapat memasuki seluruh Istana Kepresidenan yang ada di Indonesia, diperlukan ijin khusus kunjungan minimal 7 hari sebelum tanggal kunjungan. Belum ada email balasan, fax balik juga enggak ada, konfirmasi via telephone enggak dapat kejelasan seperti halnya menunggu balasan surat cinta (Ciye elahh…masih jaman ) membuat saya galau antara mau berangkat atau mencari alternative tujuan wisata lainnya. Mengingat letaknya di daerah Gianyar yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan mengendarai motor sewaan dari daerah Jimbaran tempat saya menginap. Tapi daripada penasaran saya dan partner traveling saya mendatangi Istana tersebut. Mau ditolak atau enggak ya..minimal bisa foto bagian depannya. Rupanya pada saat saya sampai di sana, surat ijin atas nama rombongan saya sudah ada di pos keamanan. Nama saya ada dalam list tamu presiden ( Bangga!! ). Dua rombongan yang masuk sebelum kami adalah rombongan anak-anak sekolah. Saat saya mengecek Hp saya sebelum masuk istana, ternyata ada panggilan tak terjawab dengan kode daerah Bali rupanya staff Istana mencoba menghubungi saya pada saat saya di jalan tadi.
Wisma Bima

Di pandu oleh Pak Wayan staff  istana yang hari itu menjadi tour guide untuk kami, memasuki halaman Istana, ia menjelaskan, bahwa ada 3 pintu masuk ke Istana Tampaksiring. Ketiganya mempunyai fungsi yang berbeda yaitu untuk Presiden, tamu Negara dan untuk umum. Pintu yang kami masuki adalah pintu yang ke tiga yaitu pintu yang diperuntukan  bagi tamu umum atau pengunjung. Wisma Bima- bangunan pertama yang kami lihat saat memasuki kawasan Istana. Fungsinya sebagai tempat pasukan keamanan Presiden dan petugas yang melayani tamu negara.
Mata Air Suci atau Tirta Empul
Dari Wisma Bima kami berjalan menuju Wisma Merdeka. Mulailah Pak Wayan bercerita di sela-sela perjalanan kami menuju Wisma Merdeka, tentang sejarah Istana Tampaksiring dimana nama tersebut berasal dari dua kata. Tampak dan Siring yang bermakna “Telapak” dan “miring”. Konon, menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang Raja bernama Mayadenawa. Raja ini sangat sakti tapi mempunyai sifat jahat (angkara murka) hingga menganggap dirinya sebagai  Dewa. Akibatnya para Dewa mengutus Batara Indra dan pasukanya untuk menangkapnya. Mayadewana lari, untuk menghilangkan jejaknya ia berjalan dengan cara memiringkan kakinya tapi bagaimanapun juga Mayadewana berhasil ditangkap. Sebelum ditangkap Mayadewana mengunakan kesaktiannya untuk menciptakan mata air beracun namun Batara Indra kemudian menciptakan mata air penawarnya yang diberi nama Tirta Empul yang berarti “air suci”. Itulah awal mula dari nama Tampaksiring. Dari sudut Wisma Merdeka kita bisa melihat kolam Tirta Empul yang menampung sumber air yang dianggap suci tersebut di dalam kawasan Pura Tirta Empul. Tempat tersebut selain digunakan sebagai tempat ibadah juga dijadikan objek wisata dimana terdapat kolam penyucian yang dapat digunakan pengunjung untuk menyucikan diri dengan mandi di pancuran air yang bersumber dari mata air suci tersebut.
Menyucikan diri di bawah pancuran mata air Tirta Empul

Wisma Merdeka

Berlanjut ke Wisma Merdeka yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan presiden, terdapat kamar tidur dan ruang tamu bagi tamu negara. Berjalan lewat belakang Wisma Merdeka teman saya begitu tertarik dengan patung wanita diatas kolam kecil sebelum memasuki Wisma Negara. Pak Wayan bercerita bahwa patung tersebut memang sudah lama sekali menghiasi salah satu sudut Istana walaupun ia tidak bisa memastikan berapa usianya naman patung itu sudah ada bersamaan Istana ini didirikan. “Patung itu seolah hidup “ kata Pak wayan.
Konon patung ini merupakan patung tertua yang ada di kompleks Istana
Wisma Merdeka dan Wisma Negara dipisahkan oleh celah bukit yang cukup tinggi terdapat jalan kecil diantara kedua bukit tersebut untuk menuju Pura Tirta Empul. Jembatan Persahabatan (  Brige of Friendship ) menjadi penghubung antara Wisma Merdeka dan Wisma Negara, dinamakan demikian karena tamu-tamu Negara yang datang berkunjung selalu diantar dari Wisma Merdeka ke Wisma Negara melalui jembatan tersebut.
Brige Of Friendship



Bersama staff Istana
Pemandangan dari Brige Of Friendship


Wisma Yudistira-terletak di tengah-tengah kompleks Istana, Wisma ini berfungsi sebagai tempat menginap rombongan tamu negara. Kami hanya melihat dari kejauhan. Pak Wayan lantas mengajak kami untuk masuk sebuah ruang pertemuan. Langit-langit ruangan ini begitu megah dan dirancang oleh arsitek asal Bali. Kursi bergaris putih dan merah tua berbaris rapih di ruangan ini. Lagi-lagi pak Wayan menyuruh saya untuk bergaya sesuai arahannya ( Gaya jadul dengan menopangkan tangan di dagu di salah satu meja, anehnya kenapa kita nurut baget ya..hehe…). Oke, nampaknya sudah hampir dua jam kami berkeliling, kami kembali lagi ke Pos keamanan,saya diberikan selembar surat ijin masuk Istana dan satu buah buku berisi tentang keterangan Istana Tampaksiring. “Ini dia yang saya tunggu dari kemarin balasan “surat cinta” dari istana“ Canda saya pada para staff  Istana dan Pak Wayan. Rupanya kami sudah diberikan ijin masuk dan pada saat di jalan staff Istana mengkonfirmasi ulang lewat telepon pada saat saya di jalan tadi
Ruang Pertemuan Istana Kepresidenan Tampaksiring Bali

Halaman Kompleks Istana

Perlu saya ingatkan jika kita mengunjungi Istana Kepresidenan yang ada di Indonesia :
  1. Pastikan memakai baju yang rapih dan sopan. Lebih baik mengenakan kemeja atau kaos berkerah. Tidak diperkenankan memakai celana pendek Mengenakan sepatu bukan sandal. Untuk cara berpakaian anggaplah kita sebagai tamu Presiden jadi pakailah pakaian yang selayaknya untuk bertamu apalagi ke “rumah” Presiden,walaupun nantinya yang menjamu bukan Presiden langsung tapi semua yang datang ke Istana Kepesidenan adalah tamu Presiden.
  2. Ikuti aturan, hasrat untuk berfoto dan mengabadikan momen rasanya memang terkadang susah dibendung tapi bisanya ada hal-hal tertentu yang tidak boleh diabadikan atau mengambil gambar sembarangan di dalam Istana. Jadi ikuti aturan yang ada.
  3. Untuk dapat masuk ke Istana Kepresidenan diharuskan memiliki ijin khusus jadi ajukan ijin kunjungan kita maximal 14 hari kerja sebelum tanggal kunjungan. Untuk berkunjung ke Istana Kepresidenan gratis tidak dipungut biaya asal kita juga mengikuti birokrasi yang sudah diatur.
  4. Konfirmasi dengan kesekretariatan istana apabila kita sudah mengirimkan email atau fax surat   kunjungan. Jangan ragu untuk konfirmasi ulang untuk memastikan ijin kunjungan kita disetujui atau tidak. Untuk Istana Tampaksiring surat kunjungan dapat di tujukan ke alamat berikut:


Istana Kepressidenan Tampaksiring-Bali
Jl. Raya Dr.Ir. Soekarno, Tampaksiring Bali 80552
Tlp 0361 901400/Fax 0361 901300

Contact us

Nama

Email *

Pesan *