15 Juli 2018

Backpackeran Ke Pulau Pari




Bau anyir khas Muara Angke sudah tercium. Tanda kami sudah dekat dengan pelabuhan Kali Adem ditambah bau asin dari tempat penjemuran ikan yang masih menyisakan bau meski tidak ada ikan yang dijemur siang itu. Parkiran kendaraan roda dua bertuliskan parkir inap mengartikan bahwa mereka yang menyeberang ke pulau menambatkan kendaraannya ditempat ini. Tak banyak yang mengantri di loket pembelian  ketika kami masuk untuk membeli tiket  karena hari sudah lewat tengah hari. Ada satu bapak yang terlihat ramah menawarkan jasa penyebrangan, pas kami sedang mencari tiket. Pak Asep namanya sedikit gencar menawarkan paket wisata ke Pulau Tidung.  Namun menyerah setelah dia sendiri yang bilang kalau Pari memang lebih bagus, Pulau Pari memang menjadi tujuan liburan saya dan pak Suami. Membaca beberapa Review blog selain pulau yang terdekat dari gugusan Pulau Seribu, katanya Pantainya juga paling juara bagusnya Sedikit tergiur dengan tawaran Pak Asep kalau hari ini jam 2 masih ada kapal yang bisa kami tumpangi tapi kami urungkan saja karena niatnya memang hari ini untuk survei dan berangkat ke Pulau Parinya esok hari.

Esok hari mengejar jarak dari rumah kami di Depok ke Angke kami berangkat pagi pukul lima pagi menginggat libur lebaran yang bagi sebagian orang sudah selesai, artinya kami berangkat barengan orang kerja di hari Jumat. Kami berencana menginap semalam sampai Sabtu Pagi atau Sore. Pagi hari menjelang weekend di pelabuhan Kali Adem dipadati rombongan orang yang hendak berlibur ke pulau Seribu. Anak muda dan orang tua, betul kata teman saya. Untuk mencari tiket perahu tradisional harus antri sedari pagi. Belum lagi bersaing dengan mereka yang sudah dibantu oleh trip organiser. Beruntung kami sudah mengantongi tiket PP yang sudah kami beli di hari sebelumnya. Kami menggunakan Speed Boat walaupun harganya lebih mahal untuk tiketnya seharga Rp. 125.000 ini sih soal kenyaman aja ya dibanding perahu tradisional Rp.40.000 tapi waktu tempuhnya pasti lebih lama. Hanya diperlukan satu jam dari Pelabuhan Kali Adem untuk menyeberang ke Pulau Pari  tapi nunggu Boatnya yang lama, karena kita kepagian sampainya di pelabuhan sementara boatnya datang jam 9 kemarin informasinya berangkat jam 8 pagi. Tapi ya sudahlah....

Speed Boat yang kami tumpangi, kira-kira muat sampai 20an orang

Akhirnya sampai juga di dermaga Pulau Pari. Tugu Ikan Pari di Dermaga langsung menjadi pusat perhatian para pelancong yang langsung sigap berselfi. Kami tak lantas mencari penginapan karena kita mau mencari tahu lokasi Pantainya dulu, mengikuti arus orang-orang yang berjalan. Nampaknya mereka mau ke Pantai Pasir Perawan, pantai yang terkenal di Pulau ini. Kita ikuti saja kami berdua sama sekali belum pernah ke sini. Mengikuti orang-orang yang belum tentu sama tujuannya. Namun gapura bertuliskan Pantai Pasir Perawan membuat kami lega. Benar saja beberapa review blog yang saya baca katanya Pulau Pari yang paling indah di antara kepulauan Seribu lainnya. Hamparan pasir putih dan birunya laut membuat pantai ini begitu menyejuakan mata. Pasirnya putih dan bersih, airnya bening memancarkan keindahan Pantai Pasir Perawan. Beberapa perahu besandar dibibir pantai. Pendopo dan ayunan menjadi pemanis untuk menangkap foto kekinian yang instagramable.

Kami pun memutuskan untuk mengisi perut, makan siang dengan nasi goreng ala Pulau Pari yang di bandrol dengan harga Rp.15.000 rasanya ga mengecewakan kok. Padahal kami khawatir sekali kalau makan di tempat wisata itu kurang enak. Kami melanjutkan menelusuri pulau untuk mencari homestay. Tidak sulit sepertinya mencari homestay bagi kami yang backpakeran, setiap rumah menuju pantai bertuliskan nomor2 telpon untuk yang ingin menyewa. Ada satu homestay yang bentuknya berbaris seperti kontrakan dan...viewnya menghadap laut. Kami sempat naksir dan mencoba menhubungi nomor yang tertera didinding namun tak bisa dihubungi. Melanjutkan pencarian kami dua orang bapak yang sedang ngopi asik di warung menanyai kami, apakah kami sedang mencari penginapan. Salah satu bapak yang memperkenalkan diri dengan nama Pak Mole Pari menawarkan jasa untuk mencarikan kami homestay, dia bilang kalau sewa homestay yang kami taksir memang agak mahal, sekitar 600rb/ malam dan bagi yang backpackeran seperti kami sebaiknya sewa kamar saja dia menawarkan sewa kamar dengan harga 350ribu. Memperlihatkan bentuk kamar yg standard untuk kami dari smartphonenya dengan fasilitas AC dan TV. Kami sepakat untuk melihatnya dulu. Oke juga sih untuk hanya menginap semalam akhirnya setelah melihat kami menyepakatinya untuk sewa semalam, niat hati mau kasih tip buat bapak itu eh dia malah langsung pergi ya sudahlah.

Siang hari kami mengeksplore Pantai Pasir Perawan, sebelumnya kami mencari tempat sewa sepeda, kendaraan yang dipakai untuk keliling pulau. Hampir kehabisan, karena sepedanya sudah hampir semuanya di sewa. Tinggal satu sepeda yang ada boncengannya, sengaja pilih yang ada boncengannya biar so sweet gitu kemana-mana boncengan bareng pak Suami. Ahhay...Sewa sepeda Rp.30.000 bukan per jam tapi bisa di kembalikan esok hari sebelum kami pulang. Murah kan??? Disni tuh yang mahal bayar toilet umumnya masa tiga rebu...

Ada tiga Pantai yang ada di Pulau ini, Pantai Pasir Perawan, Pantai Bintang dan Pantai LIPI yang berada di dalam kompleks lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tapi dengan waktu yang sangat singkat kami hanya bisa mengeksplore dua pantai saja yaitu Pantai Pasir Perawan dan Pantai LIPI

Berbagai Aktivitas Seru Yang Bisa Dilakuin Di Pantai Pasir Perawan


Pantai Pasir Perawan

Entahlah kenapa dinamakan Pantai Pasir Perawan. Mungkin karena keindahannya kali ya. Perawan kan identik dengan wanita, dan wanita itu kan dideskripsikan dengan kata cantik or indah. Apasih!!! ngasal banget. Ya kira-kira gitulah..haha..iyain aja. Sudah lama sekali enggak ke Pantai tapi begitu melihat pantai ini rasanya sangat terobati sekali kerinduan saya akan pantai. Pokoknya liburan kali ini sukses banget, cuma kurang lama aja sich. Hehee..Disini kita bisa melakukan berbagai aktivitas seru. Saya sempat merekamnya. Liat aja videonya dibawah mulai dari main-main pasir di pinggir pantai, naik kano maupun sewa perahu untuk berkeliling pantainya, berenang, nyemplung ke pantai dari ayunan, sepedaan keliling pulau, main voli pantai bareng temen-temen, dan banyak juga loh yang berkemah disini.




Menanti Sunset Pantai LIPI

Pantai ke dua yang kami kunjungi letaknya berada di dalam kompleks Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, bayar tiket masuknya cuma Rp.2000. Sebelah kiri sebelum memasuki kompleks LIPI ada Pantai Bintang. Tapi berhubung kami ingin menangkap sunset kami memilih ke Pantai LIPI terlebih dahulu. Pada saat kami datang, sepi banget, cuma kami berdua kali yang ada di pantai itu. Sayangnya pantanya agak kotor bukan karena pengunjung tapi karena sampah dari laut yang tergerus ombak ke tepian pantai. Tapi karena sepi jadi kayak private aja. Keasikan menikmati sunset, lupa kalau hari sudah mulai gelap jadi enggak bisa mampir ke Pantai Bintang. Kalau ada kesempatan lagi saya juga mau balik lagi ke Pulau Pari, enggak ngebosenin dan belum semua tempat kami jelajahi.




Tips Backpakeran Bareng Pasangan

Tadinya ke Pulau Seribu mau ikut open trip salah satu trip organiser yang pernah direkomendasikan teman saya. Sudah tanya-tanya tapi berhubung waktunya enggak pas jadi saya dan pak Suami nekad aja ke sana berduaan, belum ada yang pernah menyebrang ke Pulau Seribu juga. Jadi sehari sebelumnya kita ke pelabuhan Kali Adem di Muara Angke untuk survei dan cari tiket. Ada kenikmatan tersendiri untuk enggak pake jasa trip organiser, kita bebas menentukan waktu dan enggak terikat itinerary.

Mungkin beberapa tips bagi kalian yang ingin backpakeran bareng pasangan supaya menghindari ribut-ribut saat traveling, kan sayang bukannya menikmati tapi malah bete-betean :

  1. Cari tau tempat yang akan kalian kunjungin bisa liat dari review blog, atau info dari orang-orang yang pernah ke sana.
  2. Bagi tugas bareng-bareng aja, misal siapa yang mau bawa bebawaan paling banyak, siapa yang harus ngecek transportasi, beli tiket, jadi bendahara, dll.
  3. Jangan berekspektasi terlalu tinggi akan suatu tempat yang akan kalian kunjungi, karena kalau enggak sesuai bakalan kecewa. Nikmatin aja liburan bareng pasangan kalian.
  4. Buat itinerary buat daftar kegiatan dan tujuan, juga termasuk buat budgetnya.
  5. Diskusikan segala sesuatunya dengan pasangan misalnya mau makan apa jangan jawab terserah ya nanti mempengaruhi moodnya. Ini sih terjadi ga cuma traveling kali ya...psssttt ini juga tips yang ke empat tambahan dari pak suami..ahahhaaha....
Menikmati Sunset di Pantai LIPI

     

7 April 2018

Prasyarat dan Tata Cara Pernikahan Katolik



Buat yang sedang mempersiapkan pernikahan, mungkin binggung harus memulai dari mana. Selain resepsi, pengurusan administrasi catatan sipil, syarat keagamaan menjadi salah satu yang penting untuk dipersiapkan juga, dalam hal ini saya spesifik membahas tentang tata cara pernikahan Katolik. Sebelumnya saya bergereja di Gereja Kristen jadi sangat asing bagi saya untuk mengurus semuanya.. Proses mempersiapkan pernikahan saya rasa tidak ada yang instan pasti sebelum memutuskan untuk menikah proses ini sudah dipersiapakan maximal setahun sebelumnya, ye kan.

Nah langkah apa aja sih buat calon keluarga muda katolik.

  • Menghadap ke ketua lingkungan setempat untuk memberitahukan rencana penikahan kalian. Sekalian juga kalau kalian butuh bantuan lingkungan untuk tugas koor atau bantuan lain pada saat pemberkatan digereja bisa didiskusikan dengan pengurus lingkungan.
  • Datangin Sekretariat Gereja,mendatangi sekretariat gereja tempat akan berlangsungnya Sakramen Perkawinan karena tiap gereja punya kebijakannya sendiri, jangan ragu bertanya. Biasanya kamu akan di berikan daftar / form berkas perkawinan yang menjadi syarat administrasi. Dan kalau sudah menentukan tanggal pernikahan ada baiknya langsung booking tanggal untuk acara Sakramen Perkawinan kalian. Biasanya Gereja tidak melayani Sakramen Perkawinan pada masa adven dan masa prapaskah.
  • Cek Jadwal & Daftar kursus MRT ( Membangun Rumah Tangga ) Kursus pra nikah atau sekarang lebih dikenal dengan nama kursus Membangun Rumah Tangga menjadi salah satu prasyarat untuk langkah selanjutnya. Cek jadwal kursus MRT, kursus biasanya diadakan bergilir di tiap Paroki. Usahakan kursusnya di paroki tempatmu bergereja ya atau gereja tetangga juga boleh tapi saya sarankan yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal kalian karena apa? Kursus biasanya diadakan lebih dari satu hari, full day dari pagi sampai sore jadi cukup menguras tenaga kalian.
  • Mempersiapkan surat-surat yang diperlukan (dibawah akan saya jelaskan apa saja yg perlu disiapkan) bila sudah siap kedua calon pengantin bisa menghadap pastor paroki untuk proses penyelidikan kanonik. Apa itu proses kanonik? Penyelidikan kanonik adalah peluang pastoral persiapan perkawinan yang personal dan intensif, untuk itu pastor bertanggung jawab atas pengisian berkas penyelidikan kanonik ini & bertugas menjelaskan isi pertanyaan-pertanyaan sewajarnya ( Blangko penyelidikan Kanonik, hlm 1) intinya sih kalian akan dipanggil satu-satu, diwawancarai secara pribadi oleh Romo, enggak usah takut. Karena pada proses ini akan dijelaskan sifat perkawinan Kristen yang tak terceraikan. Siapin mental aja ya….hihi…
  • Setelah penyelidikan selesai, nama kedua calon pengantin akan diumumkan di gereja sebanyak tiga kali, dalam tiga minggu berturut-turut
Apa saja syarat administrasi yang diperlukan? Ini dia...
  • Mengisi surat keterangan dari ketua lingkungkungan dimana calon mempelai tinggal.
  • Salinan asli surat bapstis terbaru dari paroki asal. Terbaru artinya tidak lebih dari enam bulan sebelum pelaksanaan penikahan.
  • Buku asli Membangun Rumah Tangga (Ini akan diberikan ketika selesai mengikuti program MRT)
  • Fotocopy KTP masing-masing 1 lembar.
  • Fotocopy kartu keluarga Katolik. ( Tidak ada juga tidak masalah atau tergantung kebijakan gereja tempat berlangsungnya Sakramen Pernikahan )
  • Paspoto berwarna kedua mempelai berdampingan ukuran 4x6 ( 4 lembar)
  • Fotocopy KTP Saksi Perkawinan ( Beragama Katolik usia max 55 thn)
  • Jika salah satu calon mempelai berasal dari paroki luar harus menyertakan surat pengantar/keterangan dari ketua lingkungan yang diketahui oleh Pastor.
  • Buku upacara perkawinan.
  • Jika kedua mempelai berasal dari Paroki luar membawa surat pernyataan atau surat delegasi dari Pastor Paroki untuk melaksanakan kanonik atau pernikahan.
Bagaimana jika salah satu mempelai beragama Kristen namum menikah dengan cara Katolik?

Nah, dalam Gereja Katolik sendiri hanya dikenal 2 macam penikahan campur yaitu perkawinan beda agama (Disparitas Cultus) yaitu perkawinan yang terjadi antara orang yang sudah dibaptis dalam Gereja Katolik yang sudah diterima di dalamnya dengan orang yang tidak dibabtis, untuk mengesahkannya diperlukan dispensasi dari ordinaris wilayah. Yang kedua perkawinan beda gereja (Mixta Religio) perkawinan antara orang yang sudah dibaptis dalam Gereja Katolik yang sudah diterima di dalamnya dengan orang yang dibaptis dalam gereja Kristen, untuk mengesahkannya diperlukan izin dari ordinaris wilayah. Berkas apa yang diperlukan :

  •  Fotocopy surat Baptis Protestan
  • Surat Sidi Protestan
  • Buku asli Membangun Rumah Tangga.
  •  Fotocopy KTP masing-masing 1 lembar.
  • Fotocopy kartu keluarga Sipil
  • Fotocopy KTP Saksi Kanonik maksimal 2 orang dari pihak non Katolik yang mengetahui bahwa calon non-Katolik tersebut belum pernah menikah dan tidak terkena halangan ikatan nikah atau halangan perkawinan lainnya.
  • Fotocopy KTP Saksi Perkawinan ( Orang Katolik usia maximal 55 tahun )
  • Surat pernyataan dari orang tua (tanda tangan diatas materai Rp. 6.000) yang menyatakan bahwa menyetujui pernikahan secara Katolik.
  • Mengisi surat keterangan belum pernah menikah dari Gereja atau instansi pemerintah setempat dimana calon mempelai tinggal.
  •  Surat perjanjian pihak katolik untuk mohon dispensasi ( dibuat oleh Romo )



25 Februari 2018

Tempat piknik paling dekat dengan Bandara Ahmad Yani,Semarang.

Begitu "Touch down" ๐Ÿˆ๐Ÿˆdi Semarang saya melimpir ke salah satu tempat piknik yang paling dekat dengan bandara. Emang ada? Ada kok namanya Anjungan Bandara Ahmad Yani yang dikelola oleh PT. Angkasa Pura, letaknya? Kepleset juga nyampe tapi nyrossooott ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜ .Persis di sebelah pintu keluar.
Kayak lagi di stadion ya...

Ada apa sih disana? Disana hanya ada pendopo yang ga begitu besar. Tempat ini memang menawarkan pemandangan pesawat take off dan landing. Dah gitu doank...just as simple as that, yang bagi orang lain mungkin adalah hal yang receh tapi tidak bagi anak-anak  yang diajak oleh orang tua mereka. Dan orang tua ga perlu merogoh kocek yang mahal buat liat anaknya bahagia,tiket masuk hanya Rp 2.500 buat anak-anak dan Rp 3.500 buat dewasa.

Well, satu hal yang bisa saya dapat dari kunjungan saya yang singkat ke tempat ini bahwa bahagia itu sederhana. Membahagiakan orang lain itu enggak perlu sesuatu yang mahal ( mudah-mudahan pak suami ga baca!!!)

Pengujung kebanyakan orang tua yang membawa anak-anak mereka


24 Desember 2017

Lokasi Wedding Kekinian di La Kana Chapel




Semarang selalu bikin nagih untuk dikunjungi, beberapa kali ke Semarang nyobain tempat-tempat baru tapi tetap aja ada yang kelewat untuk dikunjungi. Tiap ke kota ini pasti saya list mau ke mana, seperti ke daerah Bandungan ini. Saya dan pak Suami memang sudah berencana untuk nyobain spa di Susan Spa & Resort daerah Bandungan ( Baca juga ya Spa On The Sky di Susan Spa & Resort ). Selain untuk mecoba Spanya saya penasaran dengan bangunan La Kana yang yang lagi ngehits banget di instagram.

Deretan pegunungan Merbabu, Telomoyo dan Andong
La Kana adalah bangunan yang menyerupai kapel, kapel sendiri sebenarnya adalah gereja kecil. Tapi siapun boleh melangsungkan pernikahan di bagungan yang vieuwnya menghadap ke deretan pegunungan Merbabu, Telomoyo dan Gunung Andong. Tiga pegunung ini lah yang menjadi background La Kana . Cantik kan!!! makasih. 


Mencari spot yang bagus untuk berfoto
Mengusung tema pernikahan outdoor yang menyatu dengan alam menjadikan tempat ini begitu romantis. Paket pernikahan di disini start dari 82 jutaan untuk 200 orang sudah termasuk rental space La Kana Chapel & Outdoor, menu stall live cooking, compliment 1 room 1 night.Kalau kamu mau menjadikan tempat ini hanya  untuk prewedding juga bisa kok. Preweding location start dengan harga IDR 2000.000. Prewedding 2D1N IDR 4.999.000 weekday ya, kalau weekend IDR 5.499.000 keterangan lebih lanjut bisa tanya langsung ya ke Susan Spa & Resortnya dan harganya juga bisa berubah sewaktu-waktu. 

Pinginnya sih foto berdua tapi lupa bawa tripod

Selain menyediakan paket prewedding dan pernikahan Susan Spa & Resort pastinya juga menyediakan layanan paket Spa, meeting package , BBQ Night, pesta ulang tahun anak  dan outbond.Untuk yang datang tidak menginap juga tidak masalah, kalau hanya masuk ke area ini dikenakan biaya Rp. 25.000. Untuk informasi lebih lanjut bisa di lihat keterangan di bawah ini ya….Selamat Liburan….




Susan Spa & Resort
Dusun Piyoto, Bandungan, Central Java-Indonesia
Phone 62-298 711 766
Fax 62-289 712088


23 Desember 2017

Spa On The Sky di Susan Spa & Resort





Kalau mendengar  Susan Spa & Resort pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah kapel La Kana yang lagi ngehits. Bangunan yang menyerupai kapel (gereja kecil) ini memang bagian dari Susan Spa & Resort. Melanjuti liburan saya dan pasangan di Semarang selepas acara unduh mantu.  Sepertinya mau memilih tempat libur yang tenang dan relaxs dan tempat ini kayaknya cocok banget untuk kami honeymoon. Maklum lah pengantin baru..hehe…

Susan Spa and Resort terletak di daerah Bandungan, Semarang Jawa Tengah dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari kota Semarang. Jangan khawatir dengan transportasi kesana, kalian bisa naik Grabcar. Saya dan pak Su berangkat dengan Grabcar yang kami pesan dari Star Hotel. Daerah Bandungan itu hampir sama dengan daerah Puncak di Jawa Barat jalan menuju ke lokasi juga menanjak dan berliku. Sekeliling jalan menuju resort banyak penginapan atau villa bedanya hanya enggak ada Mamang-mamang pake kupluk yang nawarin Vila…vila..vila…๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
La Kana Royal wedding venue

Susan Spa sebenarnya bermula dari  tempat Spa di Semarang, hanya saja tempat spanya diperuntukan khusus wanita. Susan Spa & Resort yang ada di daerah Bandungan ini menyediakan wedding venue itu loh yang tadi saya bilang Kapel  La Kana dengan konsep pernikahan outdoor  yang  menampilkan deretan pengunungan Merbabu sebagai background pernikahannya ditambah bangunan kapel yang bikin gue pingin nikah lagi di sini tempat ini sebagi royal wedding. Nah. karena tempatnya jauh dari kota menjadikan tempat juga  sebagai resort atau cocok untuk beristirahat. Daerah Bandungan memang merupakan daerah dengan curah hujan tinggi dan letaknya di bawah pegunungan. Tenang damai…duh saya aja nambah satu malem di sini yang semula hanya mau semalam saja bersamamu ternyata ga cukup. **Apasih.


Spa on The Sky




Mempersiapkan resepsi pernikahan plus estafet dengan acara unduh mantu dibeda kota,  membuat energi kami terkuras, badan pegel-pegel mau rontok.  Nah yang mau saya coba adalah Spanya. Kalau mau Spa di sini sebaiknya reservasi dulu ya takutnya antri apalagi kalau weekend. Kan sayang sudah jauh-jauh. Acara saya dan pak suami begitu cek in, istirahat bentar terus spa karena kami ditawarkan untuk spa di jam empat sore. Durasi spanya bisa pilih mau yang dua jam atau satu setengah jam. Supaya pas sama dinner, maksudnya begitu selesai spa lanjut dinner di Sky Garden gituh.

Balik lagi ke paket spanya, ada beberapa pilihan yang ditawarkan ada yang Java Traditional atau Balinese traditional. Selain dua pilihan tadi juga ada pilihan lain nanti dibantu sama spa consultannya kok. Karena saya lagi di Jawa Tengah jadi pilihannya yang Java Traditional lah yah. Bedanya apa? Dari rempah-rempah yang dipakai untuk massangenya, awalnya  saya dihantar untuk merendam kaki dengan rempah kemudian dihantar ke tempat spanya. Tadinya saya pikir spanya outdoor. Rupanya konsep spanya yang awalnya outdoor sudah diganti indoor lantaran cuaca di Bandungan sering hujan bahkan disertai angin sehingga membuat tempat spanya tidak dapat digunakan, tapi tenang aja ini tidak mengurangi sensasi spa on the sky dari ketinggian, kalau cuaca bagus dari sudut jendela tempat spanya juga keliatan pemandangan pegunungannya. Sayangnya kita dapat jam sore dan hujan pula jadi pemandangan pegunungannya tertutup kabut. Tapi enggak masalah, kita menikmati banget massangenya, fasilitas dan pelayanan spanya.Spa dengan paket Java Traditional hanya merogoh kocek sebesar Rp. 375.000 per orang. Kalo sama pasangan tinggal kali dua aja. Dijamin ga akan rugi. Setelah selesai ditreatments selama satu setengah jam kami ditawarkan minuman  jahe dan snack. Uh, pokonya seger deh, habis spa disuguhi minuman yang hangat bikin badan kembali seger. Oiya saya kasih saran ya kalau mau ke Spanya sebaiknya jangan telat paling tidak datang 10 atau 15 menit sebelum mulai supaya tidak terburu-buru dan enggak rugi waktunya karena ngurangin waktu kita spa ( hihi…ga mau rugi banget). Terus ya kondisi perut juga jangan terlalu kenyang dan tapi juga jangan sampai enggak makan juga.


Sky Garden Restaurant



Selesai Spa  saya dan Paksu Dinner di Sky Garden, oiya kami kan juga belum ambil welcome drinknya. Jadi sekalian saja. Sky Garden buka dari jam 05.00 sore sampai jam 22.00 malam. Sumpah saya seneng banger, kenapa?Sepi, baru inget kalau ini hari adalah hari biasa dan bukan peak season..  Jadi mau nyelpi gaya apapun ga keganggu sama  orang yang sibuk selfi juga ditambah restauranya juga instagrameble banget  jadi sambil nunggu makanan datang saya fotoin deh tuh tiap sudut sky garden, dibilang norak biarin. Dari sini juga kita bisa liat Kapel La Kana dari ketinggian.  Mau foto sudut La Kana di waktu malam tapi lampunya dimatiin. Padahal pingin banget ngeliat La Kana di waktu malem kayak foto di IG. Yakali mau foto kayak yang ada di akun IGnya Susan Spa & Resort, bagus sih apalagi kalau lagi ada wedding. Sempet tanya weekend ini ada yang weeding atau tidak maksudnya mau reserve kepingin lihat. Habis pasti romantic banget, jadi pingin nikah lagi di disini.**Eh...



Pandan Restaurant




Selain ada restaurant Sky Garden yang hanya buka di sore hari sampai malam. Ada juga Pandan Restaurant tempat kami untuk menikmati sarapan. Dibawah Pandan Restauran terlihat Swimming Pool area dan dari balkon restaurant kita juga bisa melihat kapel La kana dari ketinggian.
Ada area VIP yang viewnya menghadap ke penggunungan.Berasa tamu VIP deh kita, habis lagi-lagi sepi banget. Jangan lupa untuk mengambil sarapan voucernya dibawa. Sarapannya dapat paket lengkap tinggal pilih nasi atau mie goreng ditambah paket kopi atau teh, roti dan gorengan yang terdiri dari French fries atau nugget atau baso goreng ditambah buah.Saya enggak terbiasa makan banyak tapi sering, kalau engga habis bisa dibungkus buat nanti berenang. Hehehe…


Swimming Pool & Fitness Area


Bagi yang menginap dapat fasilitas free for fitness or  Swimming pool. yang bergaya klasik gitu deh. Pagi hari emang cocok buat olahraga ada area fitness dan kolam renang yang berhadapan saya pilih renang saja, enggak usah khawatir masalah cuaca karena kolam renangnya indoor. Suka deh, rasanya pingin langsung nyemplung tapi begitu nyemplung sumpah airnya dingin banget. Ga kuat lambaikan tangan aja, saya memang ga tahan dingin. Sebenarnya kolamnya bisa dibuat air hangat tapi kayaknya lama ya kalau nunggu kolamnya sampai airnya hangat.




Jacuzzi & Sauna

Setelah renang enaknya jacuzzi dilanjut sauna. Ini free juga loh sudah termasuk dari voucer Swimming pool. Sebelum Jacuzzi dan Sauna sebaiknya pesan dulu ke penjaganya untuk dipersiapkan Jakuzi dan Saunanya supaya bisa dipersiapkan paling tidak sejam sebelumnya. Habis kedinginan berendam di air hangat dan sauna. Mak Nyusss…



Ruang Kamar Room Type Deluxe

Di Susan Spa & Resort sendiri menawarakan berbagai room type seperti Geust House, Superior, Deluxe, Aurora Jr. Suite, Prince & Princess Suite,khusus untuk yang honeymoon. Family Suite, Grand Suite & President Suite.  mulai dari harga 600K weekdays, 1.071K untuk high season dan 1.386K untuk peak season. Harga bisa berubah ya sewaktu-waktu. Nah tapi cek juga ya high seasonnya bisanya di bulan Juli,Desember jelang natal dan tahun baru. Saya dan pak Su pilih yang type delux. Ruang kamar minimalis dan nyaman dengan fasilitas TV, wi-fi, telephone, electronic kettle dan air conditioner. Kamar mandi dilengkapi shower air hangat.

Informasi lebih lanjut

Susan Spa & Resort
Dusun Piyoto, Bandungan, Central Java-Indonesia
Phone 62-298 711 766
Fax 62-289 712088







19 April 2017

Monumen Jongenskampen, Saat Itu Mereka Masih Sangat Muda

“Kami berdiri dalam antrian yang panjang, perempuan dan anak-anak,
Dibawah teriknya terik matahari tropis.
Berjam-jam lamanya…
Dan orang Jepang terus saja menghitung.
Menghitung dalam bahasa Jepang sangatlah sulit.
Itu berlangsung lama, berjam-jam lamanya…
Hitung, hitung, hitung
Hitung berjam-jam lamanya
Beribu tahun
Dibawah teriknya sinar matahari
Dengan perut kosong
(Appรจl, puisi karya Freddi Cochius )


Saya membaca puisi tersebut di atas kereta menuju perjalanan pulang ke Jakarta. Pikiran saya masih saja tertuju pada Monumen Jogenskampen di Ereveld Kalibanteng yang Jumat kemarin saya kunjungi bertepatan dengan hari Jumat Agung. Sepertinya puisi tersebut dengan visualisasi yang digambarkan oleh pematung Anton Beysens, membuat pikiran saya melayang membayangkan situasi pendudukan Jepang di Hidia Belanda pada masa itu.

Monumen Jogenskampen, mengambarkan seorang anak laki-laki  kurus, terlihat dari tulang-tulang rusuknya yang menonjol  karena kurang makan yang sedang memanggul pacul di bahunya, ditopang sebuah kapak dengan hanya mengenakan kain di pinggangnya. Monumen ini didirikan untuk mengingat anak-anak muda yang wafat pada masa penindasan Jepang di Hindia Belanda. Anak-anak muda yang dipisahkan dari ibunya dan ditawan di tempat pengasingan anak maupun pria dewasa.

Dibawah kaki patung tembaga yang diresmikan pada tahun 1988 tersebut tertulis dalam bahasa Belanda yang berarti “Saat itu mereka masih sangat muda”. Saya tidak dapat membayangkan jika saya menjadi salah satu anak muda kala itu. Dengan segala hormat untuk mengenang mereka yang telah gugur, anak-anak, kaum muda, laki-laki dan perempuan semoga mereka yang telah wafat ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya.


**Semua foto yang saya buat di Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi bukan untuk kepentingan dan tujuan komersial**

Ereveld Kalibanteng dan Candi, Makam Kehormatan Belanda Di Semarang

Beberapa kali ke Semarang dan seringnya wara-wiri dijalan Siliwangi membuat saya penasaran dengan kompleks pemakaman tersebut. Barisan Salib Putih yang tertata rapih yang begitu teduh dengan pohon beringin besar di bagian depan sepanjang sisi jalan. Saya tanya ke teman saya yang asli Semarang ada apa di Ereveld Kalibanteng, dia sendiri seumur hidup belum pernah masuk ke Ereveld tersebut. Kasihan banget!!! Akhirnya saya cari tahu sendiri tentang Ereveld. 

Monumen Jogenskampen, Ereveld Kalibanteng
Ereveld atau Makam Kehormatan Belanda adalah pemakaman korban perang, baik dari militer maupun sipil yang gugur pada saat perang di Hindia Belanda. Ada tujuh Ereveld yang tersebar di pulau Jawa yaitu Ereveld Menteng Pulo & Ereveld Ancol yang ada di Jakarta,  Ereveld Pandu di Bandung, Ereveld Leuwigajah di Cimahi, yang terakhir Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi keduanya ada di Semarang. Malah saya belum pernah mengunjungi Ereveld yang ada di Jakarta. Pernah ke makam tapi ke pemakaman kuno Belanda yang ada di Kebun Raya Bogor dan Museum Prasasti yang merupakan makam peninggalan Belanda juga, membuat saya tertarik berziarah ke Ereveld.

Pertama kali saya menjejakan kaki ke Ereveld Candi yang letaknya lebih jauh dari Ereveld Kalibanteng dari tempat saya menginap di daerah Mijen. Ereveld Candi terletak di bukit Selatan Semarang di jalan Jenderal Sudirman Gajah Mungkur, Candi, pemandangannya bagus dengan latar bukit di bagian belakang makam. Kata sepupu dari teman saya kalau cuaca lagi cerah akan terlihat gunung Unggaran. Saya membunyikan bel yang ada di sisi kiri gerbang. Cukup sekali saja, pintu gerbang dibuka oleh salah seorang pengelola makam, Pak Vincent namanya. Beberapa hari sebelum hari kunjungan saya memang telah meminta ijin berkunjung  pada Yayasan Oorlogsgravenstiching atau OGS yang merupakan yayasan pengelola seluruh Ereveld yang ada di Indonesia yang berkantor pusat di Jl. Panglima Polim, Jakarta. Sempat berbicang dengan Bapak Vincent  yang menanyakan maksud tujuan saya berkunjung, saya hanya mayarakat umum yang ingin berziarah. Sebelum saya berkunjung memang ada keluarga yang berziarah yang merupakan keturunan dari yang di makamkan ditempat ini, sebelum berkeliling saya diajak ke pendopo untuk mengisi buku tamu. Walaupun matahari saat itu tepat di atas ubun-ubun ( baca: kesiangan), tapi tidak menyurutkan langkah saya untuk menapaki Ereveld Candi. Khusus Ereveld Candi mereka yang dimakamkan adalah mereka yang berasal dari kalangan militer.
Voor Veiligheid en Recht, Ereveld Candi

Dulunya para korban dimakamkan di dua puluh dua Makam Kehormatan Belanda yang tersebar di Indonesia, dibagun antara tahun 1946 dan 1950 oleh Dinas pemakaman milik Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Atas permohonan pemerintah Indonesia, setelah penyerahan kedaulatan di tahun 60an ke dua puluh dua Makam Kehormatan Belanda dikumpulkan di Pulau Jawa saja. Tidak hanya yang beragama Kristen tapi mereka yang beragama Islam, Budha dan Yahudi juga dimakamkan di Ereveld. Bedanya nisannya tidak berbentuk Salib. Di tengah-tengah pemakaman terdapat monument pusat yang berbentuk salib berwarna putih, dibawahnya tertulis “VOOR VEILIGHEID EN RECHT” yang dapat diartikan “For Security and Justice”.

Semoga mereka yang gugur ditempatkan di tempat terbaik disisiNya


**Semua foto yang saya buat di Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi bukan untuk kepentingan dan tujuan komersial**

Contact us

Nama

Email *

Pesan *